December 29

Sholat Berjamaah (Bagian 2)

✅Urut-urutan Orang yang Berhak Menjadi Imam

1. Penguasa muslim di suatu wilayah

2. Imam rowatib

3. Orang yang paling banyak hafalan Qurannya, dengan syarat bacaan al-Qurannya tepat dan mengerti hukum-hukum dalam sholat.

4. Orang yang lebih paham tentang sunnah

5. Orang yang lebih dulu hijrah

6. Orang yang lebih tua usianya

يَؤُمُّ الْقَوْمَ أَقْرَؤُهُمْ لِكِتَابِ اللَّهِ وَأَقْدَمُهُمْ قِرَاءَةً فَإِنْ كَانَتْ قِرَاءَتُهُمْ سَوَاءً فَلْيَؤُمَّهُمْ أَقْدَمُهُمْ هِجْرَةً فَإِنْ كَانُوا فِي الْهِجْرَةِ سَوَاءً فَلْيَؤُمَّهُمْ أَكْبَرُهُمْ سِنًّا وَلَا تَؤُمَّنَّ الرَّجُلَ فِي أَهْلِهِ وَلَا فِي سُلْطَانِهِ…

Orang yang menjadi Imam (sholat) suatu kaum adalah lebih (banyak hafalan) al-Qurannya. Jika dalam hal bacaan sama, maka yang lebih dahulu hijrah. Jika dalam hal hijrah sama, maka yang lebih tua usianya. Dan tidak boleh seseorang mengimami orang lain dalam keluarga atau dalam kekuasaanya (H.R Muslim dari Abu Mas’ud)

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ قَالَ لَمَّا قَدِمَ الْمُهَاجِرُونَ الْأَوَّلُونَ الْعُصْبَةَ مَوْضِعٌ بِقُبَاءٍ قَبْلَ مَقْدَمِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَؤُمُّهُمْ سَالِمٌ مَوْلَى أَبِي حُذَيْفَةَ وَكَانَ أَكْثَرَهُمْ قُرْآنًا

Dari Abdullah bin Umar –radhiyallahu anhuma- beliau berkata: ketika kaum Muhajirin yang pertama tiba di Quba’ sebelum kedatangan Rasulullah shollallahu alaihi wasalam, yang menjadi Imam mereka adalah Salim Maula Abu Hudzaifah yang paling banyak (hafalan) Qurannya (H.R al-Bukhari).

✅Tidak Mengapa Seseorang yang Kurang dalam Hal Keutamaan Menjadi Imam bagi Orang yang Lebih Utama

Nabi shollallahu alaihi wasallam pernah sholat bermakmum pada Abu Bakr saat beliau sakit.

عَنْ عَائِشَةَ أَنَّ أَبَا بَكْرٍ صَلَّى بِالنَّاسِ وَرَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الصَّفِّ

Dari Aisyah –radhiyallahu anha- bahwa Abu Bakr sholat (menjadi Imam) bagi manusia sedangkan Rasulullah shollallahu alaihi wasallam berada di shaf (H.R Ahmad, anNasaai, dishahihkan Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban dan al-Albany)

Beliau juga pernah bermakmum pada Abdurrahman bin Auf satu rokaat pada waktu sholat Subuh

قَالَ الْمُغِيرَةُ فَأَقْبَلْتُ مَعَهُ حَتَّى نَجِدُ النَّاسَ قَدْ قَدَّمُوا عَبْدَ الرَّحْمَنِ بْنَ عَوْفٍ فَصَلَّى لَهُمْ فَأَدْرَكَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِحْدَى الرَّكْعَتَيْنِ فَصَلَّى مَعَ النَّاسِ الرَّكْعَةَ الْآخِرَةَ فَلَمَّا سَلَّمَ عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ عَوْفٍ قَامَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُتِمُّ صَلَاتَهُ

Al-Mughiroh berkata: Maka aku datang bersama beliau (Rasulullah, sepulang dari perang Tabuk, pent), hingga kami mendapati manusia telah menjadikan Abdurrohman bin Auf sebagai imam, maka Rasulullah shollallahu alaihi wasallam mendapati salah satu rokaat, beliau sholat bersama manusia rokaat terakhir. Ketika Abdurrohman bin Auf mengucapkan salam, Rasulullah shollallahu alaihi wasallam bangkit menyempurnakan sholatnya (H.R Muslim)

✅Wanita Tidak Boleh Menjadi Imam bagi Laki-laki

لَنْ يُفْلِحَ قَوْمٌ وَلَّوْا أَمْرَهُمْ امْرَأَةً

Tidak akan beruntung suatu kaum yang menyerahkan urusan kepemimpinannya pada seorang wanita (H.R al-Bukhari dari Abu Bakrah)

Jumhur Ulama berpendapat tidak sah sholat suatu kaum laki-laki yang diimami oleh wanita dengan beberapa alasan:

1. Hadits di atas tentang tidak beruntungnya suatu kaum yang menyerahkan kepemimpinannya pada wanita, terlebih dalam urusan Dien yang sangat penting yaitu sholat.

2. Tidak terdapat satu hadits shahihpun dari Nabi shollallahu alaihi wasallam tentang bolehnya seorang wanita menjadi Imam sholat bagi laki-laki. Demikian juga hal itu tidak pernah terjadi di masa Sahabat maupun tabiin.

3. Rasulullah shollallahu alaihi wasallamtelah menjadikan shaf wanita di belakang shaf para laki-laki:

خَيْرُ صُفُوفِ الرِّجَالِ أَوَّلُهَا وَشَرُّهَا آخِرُهَا وَخَيْرُ صُفُوفِ النِّسَاءِ آخِرُهَا وَشَرُّهَا أَوَّلُهَا

Sebaik-baik shaf para lelaki adalah di depan dan seburuk-buruknya adalah di akhir, dan sebaik-baik shaf para wanita adalah di akhir sedangkan yang terburuk adalah di paling depan (H.R Muslim dari Abu Hurairah)

4. Wanita adalah aurat. Rasulullahshollallahu alaihi wasallam baru berpaling menghadap para Jamaah setelah selesai salam, menunggu jamaah wanita keluar dan berpindah tempat.

عَنْ أُمِّ سَلَمَةَ قَالَتْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا سَلَّمَ مَكَثَ قَلِيلًا وَكَانُوا يَرَوْنَ أَنَّ ذَلِكَ كَيْمَا يَنْفُذُ النِّسَاءُ قَبْلَ الرِّجَالِ

Dari Ummu Salamah beliau berkata: Rasulullah shollallahu alaihi wasallam jika salam (dari sholat) beliau diam sebentar dan para Sahabat hal itu beliau lakukan agar para wanita segera beranjak (dari tempat sholat) sebelum para laki-laki (H.R Abu Dawud dishahihkan al-Albany)

Maka bagaimana mungkin menjadikan wanita sebagai Imam yang selalu diperhatikan gerak-geriknya untuk diikuti?

(dikutip dari buku ‘Fiqh Bersuci dan Sholat’, Abu Utsman Kharisman)

💡💡📝📝💡💡

WA al-I’tishom


Tags: , , , , ,
Copyright 2019. All rights reserved.

Posted 29 December 2015 by Al Ilmu in category "Kajian Fiqh

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.